Berminat pasang iklan di sini? Oke. Klik di sini sekarang!

Wajib Menuntut Ilmu dari Sumbernya, Bukan dari Pembuat Onar dan Ulama Sesat

Oleh Abu Muhammad Al Mishri Abu Muslim Al Mishri Abu Yaqub Al Maqdisi

Oleh karena itu, wajib bagi seorang pencari kebenaran untuk mencari kebenaran itu dari sumbernya, bukan dari para murjifin (pembuat onar) yang setengah terpelajar, tidak juga dari para ulama sesat, dan bahwasanya Sufyan ibn ‘Uyainah dan yang lainnya dari para ulama seperti Imam Ahmad dan ‘Abdullah ibnul Mubarak mengatakan, “Jika manusia berselisih, maka lihatlah apa yang dipegang oleh ahluts tsughur karena sesungguhnya Allah berfirman,
وَالَّذِيْنَ  جَاهَدُوْا فِيْنَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا
‘Dan orang-orang yang berjihad di jalan Kami, benar- benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami.’
(QS Al 'Ankabut: 69)”

Maka bagaimana bisa engkau, saudara mujahid, meninggalkan ahluts tsughur dari para ulama yang telah berangkat berperang menuju negeri jihad dan Islam, bagaimana bisa engkau meninggalkan mata air yang jernih ini, lalu pergi untuk mengambil agamamu dari para qa’idun (orang-orang yang duduk tidak berjihad) yang ada di pangkuan para tagut Jazirah 'Arab dan selainnya yang tidak mengafirkan mereka, tidak juga mengingkari mereka, berbaur dengan para tentaranya, pasukan keamanannya, para intelijennya, tanpa menjelaskan kepada mereka apa yang telah mereka perbuat dari pembatal-pembatal keislaman, dan janganlah engkau tertipu, hai, saudaraku, lantaran tagut memenjarakan salah seorang dari mereka karena bisa jadi itu adalah pemoles dan pembuat masyhur untuknya dan kata-katanya dan untuk memasukkannya ke dalam barisan ikhwah di dalam penjara agar menimbulkan keruwetan berpikir dan melontarkan syubhat-syubhat di antara mereka, padahal mereka telah memiliki kesempatan luas (jika mereka memang orang-orang yang benar dan jujur) untuk pergi berperang ke negeri jihad dan berhijrah ke negeri Islam karena sesungguhnya para tagut yang melindungi orang-orang semacam mereka dari orang-orang yang berpandangan ghuluw dalam takfir dan membiarkan mereka memperdagangkan bidah mereka adalah tagut yang sama yang melindungi orang-orang Jahmiyyah dan Murji’ah dan yang menolong mereka melariskan bidah mereka, yang demikian tidak lain karena dua sisi dari dua manhaj ini sama-sama mengarah kepada hasil yang satu, yaitu menikam ahlul haqq dan meninggalkan hijrah dan jihad di jalan Allah.

Saudara mujahidku, bagaimana mungkin setelah engkau diselamatkan oleh Allah dari jaring-jaring ulama tagut para ahlul irja’, engkau kembali dan jatuh ke dalam jaring-jaring ulama tagut yang memasarkan pandangan ghuluw dan sumber dari syubhat agar membuatmu duduk dari jihad dan mengembalikanmu dari hijrahmu sehingga selamatlah para majikan mereka para musuh Allah dari pukulanmu, telah berkata sebagian salaf, “Tidaklah Allah memerintahkan dengan sesuatu, kecuali setan memiliki dua cara (untuk memalingkan manusia darinya): entah dengan ghuluw (berlebih-lebihan) atau dengan taqshir (meremehkan), dan dengan yang mana pun dari keduanya setan itu berhasil, maka dia puas.”

Bagaimana engkau akan meninggalkan ilmu orang yang memanggul senjata bersamamu, berperang bersamamu di barisan, dari kalangan ahli ilmu dan fikih (yang kami maksud bukan mereka yang setengah belajar) dan menyerahkan akal dan pikiranmu kepada siapa yang tidak bisa menyelamatkan agamanya, dia hidup dengan nyaman dan selamat, menyerahkan diri kepada para tagut, dan membuat-buat teori untukmu dari jauh.

Penulis: Abu Muhammad Al Mishri, Abu Muslim Al Mishri, Abu Ya'qub Al Maqdisi
Penerjemah: Selotip
Editor: Muhammad Ibn Yusuf Al 'Umari