بسم الله الرحمن الرحيم
Oleh Abul Bara Al Kuwaiti

Syaikh Athiyatullah Al-Libi atau Syaikh Jamal Ibrahim Asy-Syitiwi semoga Allah merahmatinya adalah seorang laki-laki yang tidak seperti kebanyakan laki-laki lainnya. Allah Ta’ala mengumpulkan pada diri beliau ilmu syar’i, hikmah (kebijaksanaan), kesantunan, leadership dan manajemen yang bagus, ditambah sifat-sifat istimewa beliau yang lain seperti banyak diam dan berfikir secara mendalam dan lama atas berbagai urusan. Saya belum pernah melihat beliau sehari pun tergesa-gesa dalam urusan apapun.

Beliau senang untuk pelan dan berhati-hati serta tidak tergesa-gesa sebab beliau rahimahullah mengetahui betul ketergesaan selamanya tidak akan berakibat baik. Hal ini dibuktikan oleh serial tulisan beliau yang berjudul “Unfudz ‘ala rislika” (berjalanlah dengan pelan-pelan dan hati-hati) dalam majalah "Thalai’ Khurasan".

Selain itu, Syaikh adalah seorang pakar dan ahli dalam memanajeri urusan-urusan dan tugas-tugas jihad yang diembankan kepada beliau dalam medan (Afghanistan dan Pakistan) ini. Beliau juga menjadi supervisor atas persoalan-persoalan khusus di medan-medan jihad lainnya. Saudara-saudara kita di medan-medan jihad lainnya barangkali mengetahui lebih banyak tentang hal ini.

Demikian pula Allah Ta’ala mengaruniakan firasat kepada beliau, suatu hal yang membuat orang sangat kagum kepada ketajaman firasat beliau. Sejarah panjang jihad beliau dan dilakukan di beberapa medan jihad memberikan beliau pengalaman yang besar dan banyak dalam mengatur urusan-urusan jihad.

Apalagi Syaikh Athiyatullah Al-Libi adalah seorang penuntut ilmu syar’i. Di antara ulama tempat beliau menimba ilmu adalah Syaikh Abdullah Al-Faqih semoga Allah menjaganya. Beliau juga menuntut ilmu syar’i di Mauritania kepada sejumlah syaikh dan ulama di sana.

Dalam lembaran-lembaran yang sedikit dan sederhana ini, saya akan menceritakan sifat-sifat, akhlak-akhlak dan pengalaman-pengalaman berkesan Syaikh yang mulia dan bijaksana ini yang pernah saya rasakan langsung selama hidup bersama beliau. Bagi saya pribadi, Syaikh Athiyatullah Al-Libi adalah seorang ayah yang penyayang dan kakak. Allah menjadi saksi bahwa saya tidak mengambil manfaat dari seseorang di bumi jihad melebihi manfaat yang saya ambil dari diri beliau, yaitu manfaat berupa nasehat dan pengarahan dalam seluruh bidang; bidang syari'at, bidang pemikiran, bidang politik dan lain-lain. Kita berdoa kepada Allah semoga melimpahkan keteguhan, bimbingan dan kelurusan kepada kita.

Selayang Pandang Sejarah Syaikh dalam Jihad

Syaikh Athiyatullah Al-Libi dilahirkan di Kota Misrata, Libya pada tahun 1969 M. Beliau berangkat ke Afghanistan untuk berjihad pada akhir tahun 1988 M. Di Afghanistan, beliau bergabung dengan tanzhim (organisasi) Al-Qaedah pimpinan Syaikh Usamah bin Ladin semoga Allah merahmatinya, di kamp militer Joji. Syaikh Athiyatullah Al-Libi bergabung dengan tanzhim Al-Qaedah sejak awal didirikan. Beliau telah turut serta dalam beberapa pertempuran terbesar di Afghanistan, seperti penaklukan kota Khost. Beliau memiliki spesialisasi pada penggunaan meriam dan menembakkan mortir. Beliau telah menceritakan kepada saya bahwa beliau telah sering menembakkan mortir dalam banyak operasi jihad, salah satunya dalam pertempuran menaklukkan kota Khost. Selain itu, beliau juga memiliki spesialisasi di bidang bahan-bahan peledak.

Ketika Afghanistan berhasil dibebaskan dari komunis Uni Soviet dan terjadi konflik di antara faksi-faksi mujahidin Afghan, Syaikh Athiyatullah rahimahullah berangkat ke Sudan untuk bergabung dengan para pemimpin tanzhim Al-Qaedah yang telah berada di sana, termasuk Syaikh Usamah bin Ladin rahimahullah sendiri.

Pada tahun 1995 M dan atas arahan Syaikh Usamah bin Ladin, Syaikh Athiyatullah Al-Libi berangkat ke Aljazair untuk turut serta memimpin jihad di Aljazair. Namun karena orang-orang yang gampang mengkafirkan (takfiriyyun) seperti Antar Az-Zawabiri, Jamal Az-Zaituni dan lain-lain menguasai medan jihad di sana, maka Syaikh Athiyatullah Al-Libi keluar dari Aljazair dengan terpaksa ---sebagaimana beliau ceritakan kepada saya--- setelah beliau mengalami upaya pembunuhan oleh kelompok takfiriyah tersebut.

Beliau dan dua orang ulama mujahidin yang bersama beliau akan dibunuh karena mereka mengingkari sebagian tindakan kelompok takfiriyah (Jama’ah Islamiyyah Musallahah) tersebut. Maka mereka membuat makar dengan menempatkan Syaikh Athiyatullah Al-Libi di sebuah tempat, lalu mereka mengatakan: “Jamal Az-Zaituni akan datang untuk menemuimu di sini.” Namun syaikh dengan kecerdasan dan ketajaman firasatnya mencium bau persekongkolan busuk. Maka beliau pun melarikan diri dan menempuh perjalanan yang sangat panjang untuk keluar dari Aljazair. Beliau dikaruniai berkah sehingga akhirnya bisa tiba di Afghanistan untuk kedua kalinya. Setelah serangan 11 September yang penuh berkah dan menyingkirnya mujahidin Imarah Islam Afghanistan ke negara-negara tetangga Afghanistan, beliau tetap berjihad sampai beliau dan saudara-saudaranya mujahidin berhasil kembali lagi ke wilayah-wilayah aman di Afghanistan.

Ketika berhala modern, Amerika, melakukan invasi militer yang curang ke Irak pada 2003 M, Syaikh Usamah bin Ladin rahimahullah menugaskan Syaikh Athiyatullah Al-Libi untuk berangkat ke Irak dan memimpin jihad di sana, mendampingi Singa Irak, Syaikh Abu Mush’ab Az-Zarqawi. Syaikh Usamah memberikan perintah ini pada tahun 2006 M. Tapi Allah Ta’ala tidak memudahkan syaikh Athiyatullah untuk masuk ke Irak untuk sebuah hikmah yang telah diketahui oleh Allah Ta’ala. Syaikh Athiyatullah kembali ke Afghanistan untuk memerankan peranan yang sangat penting dan besar dalam memimpin Organisasi Kaidah selama lima tahun terakhir (2006-2011 M). Beliau menjadi wakil dari pemimpin umum tanzhim Al-Qaedah (wilayah Khurasan: Afghanistan dan Pakistan) Syaikh Musthafa Abul Yazid rahimahullah. Beliau tetap memegang jabatan tersebut sampai akhirnya menjadi pemimpin umum tanzhim Al-Qaedah wilayah Khurasan, kemudian menjadi orang kedua tanzhim Al-Qaedah pusat (orang pertama adalah Syaikh Aiman Azh-Zhawahiri, pent) setelah gugurnya dua syaikh yang mulia; Syaikh Usamah bin Ladin dan Musthafa Abul Yazid rahimahumallah.

Syaikh Athiyatullah Al-Libi memiliki kebijaksanaan, pengalaman matang dan keahlian di bidang leadership, manajemen dan politik yang menjadikan beliau layak memimpin tanzhim Al-Qa'idah meskipun dalam tanzhim sendiri terdapat orang-orang yang lebih tua, lebih dahulu berhijrah dan berjihad daripada beliau.

Syaikh Athiyatullah sendiri gugur dalam usia yang relatif muda, 43 tahun, setelah mempersembahkan ---demikian kami menyangkanya dan di sisi Allah semata perhitungannya--- nyawa dan harta yang paling berharga. Di antaranya adalah ikut gugurnya dua putra beliau. Pertama, Ibrahim yang berumur 15 tahun dan gugur dua tahun sebelum ayahnya. Kedua, Isham yang berumur 14 tahun, gugur bersama dengan ayahnya, semoga Allah merahmati mereka semua. Semoga Allah melimpahkan rahmat-Nya kepada Anda, wahai Syaikh kami yang tercinta. Demi Allah, tidaklah saya sedih atas meninggalnya seseorang melebihi kesedihan saya atas kehilangan Anda dan gugurnya Anda. Namun saya hanya akan mengatakan ucapan yang mendatangkan ridha Allah: innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun, kita milik Allah dan kita hanya akan kembali kepada-Nya.

Sumber: Syaikh Abu Abdurrahman Jamal bin Ibrahim as-Syitwi al-Misrati (Athiyatullah al-Libi). 1434 H. Jawabu Sual fi Jihad ad-Daf’i. Surakarta: Dar al-Jabhah, Al-Jabhah al-I’lamiyah al-Islamiyah al-‘AIamiyah (Global Islamic Media Front), dan Mimbar at-Tauhid wa al-Jihad.

p