Berminat pasang iklan di sini? Oke. Klik di sini sekarang!

Sebab Perselisihan: Sikap Berlebih-Lebihan (Baghyu)

Oleh Abu Muhammad Al Mishri Abu Muslim Al Mishri Abu Yaqub Al Maqdisi

Sebab ketiga dari sebab-sebab perselisihan dan berbantah-bantahan adalah sikap berlebih-lebihan (al baghyu). Dikatakan Fulan bersikap baghyu kepada Fulan, artinya Fulan menyerang si Fulan dengan perkataan atau perbuatan dan melampaui batasnya. Allah berfirman,
وَمَا تَفَرَّقُوْۤا اِلَّا مِنْۢ بَعْدِ مَا جَآءَهُمُ الْعِلْمُ بَغْيًاۢ بَيْنَهُمْ
“Dan mereka (ahli kitab) tidak berpecah belah, kecuali setelah datang pada mereka ilmu pengetahuan karena sikap melampaui batas di antara mereka.”
(QS. Asy Syura: 14)

Allah juga berfirman,
فَمَا اخْتَلَفُوْۤا  اِلَّا مِنْۢ بَعْدِ مَا جَآءَهُمُ الْعِلْمُ  ۙ  بَغْيًاۢ بَيْنَهُم
“Maka mereka tidak berselisih melainkan sesudah datang kepada mereka pengetahuan karena sikap melampaui batas yang ada di antara mereka.”
(QS. Al Jatsiah: 17)

كَانَ النَّاسُ اُمَّةً وَّاحِدَةً ۙ  فَبَعَثَ اللّٰهُ النَّبِيّٖنَ مُبَشِّرِيْنَ وَمُنْذِرِيْنَ ۖ  وَاَنْزَلَ مَعَهُمُ الْكِتٰبَ بِالْحَـقِّ لِيَحْكُمَ بَيْنَ النَّاسِ فِيْمَا اخْتَلَفُوْا فِيْهِ  ؕ  وَمَا اخْتَلَفَ فِيْهِ اِلَّا الَّذِيْنَ اُوْتُوْهُ مِنْۢ بَعْدِ مَا جَآءَتْهُمُ الْبَيِّنٰتُ بَغْيًا ۢ بَيْنَهُمْ ۚ  فَهَدَى اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لِمَا اخْتَلَفُوْا فِيْهِ مِنَ الْحَـقِّ بِاِذْنِهٖ  ؕ  وَاللّٰهُ يَهْدِيْ مَنْ يَّشَآءُ اِلٰى صِرَاطٍ مُّسْتَقِيْمٍ
“Manusia itu dahulu adalah umat yang satu, (setelah timbul perselisihan), maka Allah mengutus para nabi sebagai pemberi kabar gembira dan peringatan dan Allah menurunkan bersama mereka Kitab yang benar untuk memberi keputusan di antara manusia tentang perkara yang mereka perselisihkan. Tidaklah berselisih tentang Kitab itu melainkan orang yang telah didatangkan kepada mereka Kitab, yaitu setelah datang kepada mereka keterangan-keterangan yang nyata karena sikap melampaui batas di antara mereka sendiri. Maka Allah memberi petunjuk orang-orang yang beriman kepada kebenaran tentang hal yang mereka perselisihkan itu dengan kehendak-Nya dan Allah selalu memberi petunjuk orang yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus.”
(QS. Al Baqarah: 213)

Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah, “Ijtihad yang dibolehkan tidak akan mencapai derajat fitnah dan perpecahan, kecuali dibarengi sikap baghyu (melampaui batas), bukan murni ijtihad, tidak akan terjadi fitnah dan perpecahan dengan adanya ijtihad yang diperbolehkan, akan tetapi itu terjadi jika dibarengi unsur baghyu dan setiap sesuatu yang menimbulkan fitnah dan perpecahan bukanlah bukan dari agama, baik itu perkataan atau perbuatan.”

Beliau juga mengatakan, “Dan kebanyakan apa yang terjadi perselisihan di dalamnya di kalangan golongan kaum mukminin dari masalah-masalah usul dan yang lainnya dalam bab sifat, kadar, imamah, dan lainnya, adalah masuk ke dalam bab ini, di dalamnya ada mujtahid yang benar dan di dalamnya ada juga mujtahid yang keliru dan mujtahid yang keliru ini menjadi orang yang bersikap baghyu (melampaui batas) dan di dalamnya juga ada orang yang bersikap baghyu tanpa berijtihad dan ada juga yang kurang dalam apa yang diperintahkan baginya dari sikap sabar.”

Penulis: Abu Muhammad Al Mishri, Abu Muslim Al Mishri, Abu Ya'qub Al Maqdisi
Penerjemah: Selotip
Editor: Muhammad Ibn Yusuf Al 'Umari