Berminat pasang iklan di sini? Oke. Klik di sini sekarang!

Penjelasan Kaidah "Barang Siapa yang Tidak Mengafirkan Orang Kafir, Maka Dia Kafir"

Oleh Nashir Ibn Hamad Al Fahad

Segala puji bagi Allah dan selawat serta salam atas Rasulullah, adapun kemudian.

Sesungguhnya kaidah "Barang Siapa yang Tidak Mengafirkan Orang Kafir, Maka Dia Kafir" adalah sebuah kaidah yang dikenal dan terkenal. Kaidah ini adalah pembatal keislaman yang ketiga yang disebutkan oleh Syaikh Muhammad bin 'Abdul Wahhab rahimahullah Ta'ala, di mana beliau berkata, "Ketiga, barang siapa yang tidak mengafirkan orang-orang musyrikin atau ragu akan kekafiran mereka atau membenarkan mazhab mereka, maka dia kafir."

Hanya saja, kaidah ini tidak mutlak seperti ini, akan tetapi di dalamnya terdapat perincian. Barang siapa yang lalai dari perincian ini, maka ia akan terjerembab ke dalam kebatilan, yaitu mengafirkan kaum muslimin atau (sebaliknya) membiarkan orang orang kafir yang asli tanpa dikafirkan. Perincian dari masalah ini adalah sebagai berikut.

Ketahuilah, yang pertama, asal dari kaidah ini bukan karena melaksanakan suatu kekafiran baik yang berupa perkataan atau pun perbuatan, melainkan dari segi menolak dan mendustakan nas-nas. Barang siapa yang membiarkan orang kafir tanpa dikafirkan, berarti perbuatannya ini merupakan bentuk pendustaannya terhadap nas-nas yang menyatakan akan kekafiran orang tadi. Oleh karena itu, maka nas yang menyatakan akan kafirnya orang tadi harus sahih dan telah disepakati dan pelaku yang meninggalkan takfir (yang tidak mengafirkan orang tadi) harus dalam keadaan menolak nas-nas ini.

Al mukaffirah bukan hanya satu macam saja dan orang yang mengerjakannya pun bukan hanya satu tingkatan saja. Untuk menjelaskan masalah ini, menuntut adanya pengelompokkan. Perkara ini dikelompokkan menjadi dua:

Kelompok pertama adalah orang yang kafir asli seperti Yahudi, Nashrani, Majusi, dan lain lain, maka barang siapa yang tidak mengafirkan mereka atau ragu akan kekafiran mereka atau membenarkan mazhab mereka, maka dia telah kafir berdasarkan ijmak, sebagaimana yang telah disebutkan oleh lebih dari satu ahli ilmu karena perbuatannya ini berarti penolakan terhadap nas-nas yang menyatakan akan batilnya akidah selain akidah kaum muslimin dan kafirnya orang yang berada di luar Islam.

Kelompok kedua adalah orang yang murtad dari Islam dan ini dibagi lagi menjadi dua kelompok:

Yang pertama, orang yang mengumumkan kekafirannya dan berpindahnya dia dari Islam menuju kepada selainnya, seperti Yahudi atau Nashrani atau Ilhad, maka hukumnya  seperti hukum pada kelompok pertama di atas (kelompok orang kafir asli).

Yang kedua, orang yang mengerjakan sebuah pembatal keislaman, akan tetapi ia masih mengaku-ngaku islam dan tidak meninggalkan pembatal keislaman ini, maka golongan ini dibagi dua lagi:

Yang pertama, orang yang mengerjakan sebuah pembatal keislaman yang sudah jelas dan telah ditetapkan dengan ijmak (seperti menghina Allah, contohnya), maka orang ini telah kafir berdasarkan ijmak. Akan tetapi, orang yang tidak mengafirkan orang ini, ada dua macam lagi:

Yang pertama, yaitu yang mengakui bahwa perbuatan menghina Allah adalah sebuah kekafiran, akan tetapi ia tawaqquf (berhenti) dari menetapkan hukum kafir atas orang tertentu yang melakukannya karena kurangnya ilmu dia atau karena adanya syubhat yang ia dapatkan atau yang semisal ini, maka orang ini keliru dan perbuatannya ini adalah batil, akan tetapi ia tidak dikafirkan karena ia tidak menolak atau mendustakan nas. Ia menyetujui apa yang terkandung dalam nas-nas dan ijmak bahwa menghina Allah adalah sebuah kekafiran.

Yang kedua, yaitu orang yang mengingkari bahwa menghina Allah adalah sebuah kekafiran, maka orang ini dikafirkan setelah sebelumnya diberikan penjelasan (bayan) karena ia menolak nas-nas dan ijmak seperti orang yang beribadah kepada kuburan, maka barang siapa yang menyelisihi keterangan yang menyatakan bahwa perbuatan ini (beribadah kepada kuburan) adalah sebuah kekafiran, maka ia dikafirkan karena ia menolak nas-nas dan ijmak. (Sebaliknya) barang siapa yang mengakui bahwa perbuatan ini adalah sebuah kekafiran, akan tetapi ia tawaqquf (berhenti), tidak mengafirkan pelakunya karena adanya syubhat yang ia dapatkan, maka orang ini tidak dikafirkan.

Yang kedua, orang yang melakukan sebuah pembatal keislaman yang diperselisihkan seperti meninggalkan salat contohnya. Mengafirkan orang yang meninggalkan salat adalah masalah yang diperselihkan, maka orang yang tidak mengafirkan pelakunya tidaklah dapat dikafirkan, bahkan tidak pula dibidahkan dan difasikkan, walaupun ia keliru.

Ini adalah pandanganku tentang kaidah ini secara singkat dan shalatullah atas Muhammad.

Sumber: http://terapkan-tauhid.blogspot.com/2012/05/penjelasan-dari-kaedah-barang-siapa.html?m=1, dengan perubahan

Penulis: Nashir Ibn Hamad Al Fahad
Editor: Muhammad Ibn Yusuf Al 'Umari