Berminat pasang iklan di sini? Oke. Klik di sini sekarang!

Paham Qaumiyyah Bertentangan dengan Islam

Oleh Nashir Ibn Hamad Al Fahad

Saya telah membaca berita yang tersebar dalam surat kabar tanggal 10/11/1425 H yang berjudul "Hari Sekolah Dimulai dengan Hormat Bendera" dan "Menjadikan Hari Nasional sebagai Hari Libur Resmi", maka saya hendak memperingatkan kaum muslimin dengan beberapa hal di bawah ini.

Pertama, pernyataan-pernyataan di atas dimaksudkan untuk mengganti sesuatu yang mulia dengan sesuatu yang rendah dan dimaksudkan untuk menjadikan ikatan ketanahairan sebagai ganti ikatan agama. Di saat manhaj (kurikulum) agama disingkirkan dari sekolah dan pembahasan al wala' wal bara' dihapus darinya (padahal pembahasan ini adalah pokok ajaran Islam), maka dipaksakan pada saat itu apa yang disebut sebagai hormat bendera dan hari nasional dijadikan sebagai hari libur resmi (menyerupai 'idul fithri dan 'idul adha!). Semua yang sedang berlangsung sekarang ini adalah demi menjadikan prinsip "Innamal wathaniyyuna ikhwah” (sesungguhnya orang-orang yang setanah air itu adalah bersaudara) sebagai ganti dari firman Allah Ta'ala,
إنما المؤمنون إخوة
“Innamal mu'minuna ikhwah” (sesungguhnya orang orang yang beriman itu bersaudara).

Tidak diragukan lagi bahwa dakwah kepada kebangsaan atau nasionalisme atau yang serupa dengan itu adalah merupakan dakwah-dakwah jahiliah yang wajib untuk disingkirkan oleh kaum muslimin.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah Ta'ala berkata, "Setiap yang diluar dari dakwah Islam dan Alquran, seperti (dakwah kepada) nasab, atau negeri, atau kewarganegaraan, atau mazhab, atau tarekat, maka itu termasuk dari penisbatan jahiliah ('azaul jahiliyyah).”
(28/328)

Dengan ungkapan ini, beliau mengisyaratkan kepada sabda Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam yang telah diriwayatkan oleh Ahmad dari Ubai bin Ka'ab,
من سمعتموه يتعزي بعزاء الجاهلية، فاعضوه بهن أبيه ولا تكنوا
"Sesiapa yang mendengar seseorang menyeru dengan seruan jahiliah, maka suruhlah dia gigit kemaluan ayahnya. Tidak perlu kalian berlapik."

Syaikh Ibnu Baz rahimahullah berkata dalam fatwa beliau (1/289), "Tidak diragukan lagi bahwa dakwah kepada kebangsaan adalah termasuk perkara jahiliah karena dakwah tersebut adalah dakwah kepada selain Islam."

Beliau juga berkata seputar perbuatan menjadikan kebangsaan sebagai pengganti Islam (1/296), "Ini tidak lain adalah bertentangan dengan kitab Allah dan menyelisihi syariat Allah dan melampui batasan Allah, juga merupakan bentuk muwalah (loyalitas) dan permusuhan, cinta, dan benci berdasarkan selain agama Allah. Alangkah besarnya kebatilan ini dan alangkah jeleknya manhaj ini. Alquran menyeru untuk ber-wala' kepada orang orang mukmin dan memusuhi orang orang kafir siapa pun mereka dan apapun mereka, sedangkan syariat kebangsaan tidak menginginkan hal ini."

Kedua, di antara kemungkarannya adalah menjadikan suatu hari tertentu (selain dua hari raya) sebagai hari besar yang dirayakan, walaupun mereka tidak menamainya dengan hari raya, karena tolak ukur adalah berdasarkan hakikatnya bukan berdasarkan nama. Ulama-ulama negeri ini telah berfatwa dalam banyak buku-buku mereka bahwa perkara seperti ini adalah bidah dan kemungkaran. Contohnya lihat Fatawa Lajnah Daimah (3/81-89).

Ketiga, bahwa perbuatan yang dinamai dengan hormat bendera ini adalah haram, tidak boleh dilagukan, dan tidak boleh diulang-ulang, baik bagi para guru atau pun bagi para murid atau pun bagi selain mereka. Hal ini karena dua sebab:

Pertama, perbuatan ini adalah salah satu pintu dari dakwah jahiliah yang mempunyai tujuan untuk menjadikan tanah air sebagai pengganti Islam (penjelasan tentang hal ini telah disebutkan di atas).

Kedua, bahwa dalam pelaksanaannya, perbuatan ini diiringi dengan lafal-lafal syirik, seperti ucapan mereka, "Kehidupan raja (atau kerajaan) adalah untuk bendera dan tanah air," ini adalah kesyirikan karena Allah Subhanah berfirman,
قل إن صلاتي ونسكي ومحياي ومماتي لله رب العالمين لا شريك له
"Katakanlah, "Susungguhnya salatku, ibadahku, hidupku, dan matiku adalah untuk Allah Rabb semesta alam, tiada sekutu bagi-Nya.""

Allah Subhanah telah menjadikan kehidupan adalah untuk Allah saja, tiada sekutu bagi-Nya, sedangkan dalam lagu ini, mereka menjadikan kehidupan raja (atau kerajaan) untuk selain Allah, ini adalah perkara yang sudah jelas.

Keempat, bahwa wajib atas para ulama dan para penuntut ilmu untuk menjelaskan kebenaran dalam perkara perkara seperti ini yang hampir tidak berlalu suatu hari, kecuali kaum muslimin diuji dengan masalah ini. Allah telah berfirman,
وإذ أخذ الله ميثاق الذين أوتوا الكتاب لتبيننه للناس ولا تكتمونه
"Dan (ingatlah) ketika Allah mengambil janji dari orang orang yang telah diberi Alkitab (yaitu), "Hendaklah kamu menjelaskan isi Kitab itu kepada manusia dan kamu jangan menyembunyikannya.""
(Ali 'Imran: 187)

Sikap diam terhadap perkara perkara ini telah menjadikan orang-orang batil berlaku berani (atau lancang) dengan kebatilannya.

Saya memohon kepada Allah Subhanah agar Dia menolong Islam dan pemeluknya dan agar Dia menelantarkan orang-orang kafir beserta para penolongnya. Sesungguhnya Dia Mahakuasa atas hal itu.
وصلي الله علي نبينا محمد وعلي آله وصحبه أجمعين

Sumber: http://terapkan-tauhid.blogspot.com/2012/06/nasionalisme-bertentangan-dengan-islam.html?m=1, dengan perubahan.

Penulis: Nashir Ibn Hamad Al Fahad
Editor: Muhammad Ibn Yusuf Al `Umari