بسم الله الرحمن الرحيم
Oleh Cumi Cola

Salim Ath Thawil, seorang pemuka Salafi Madkhalis di Kuwait, mencela dan menghina para mujahidin khususnya di Suriyyah. Tapi giliran diminta kritiknya soal Syi'ah, dia tidak sudi membahasnya. Apakah Madkhalis yang satu ini bekerja untuk AS dan Iran? Lebih rinci tentang kelakuan atau perangai para Madkhalis yang benci dengan para mujahidin, tapi sayang dengan musuh-musuh ada saatnya nanti kita bahas.

Dear tweeps, insyaa Allah bentar lagi kita panaskan TL dengan kultwit melanjutkan tentang Madkhalis ya. Para Madkhalis harap merapat dan duduk manis. Dear tweeps, bi'idznillah, sesuai harapan, hari ini saya lanjutkan kultwit Madkhalis. Langsung saja kita masuk ke karakteristik mereka yang ke-2.

Karakteristik atau ciri Madkhalis yang ke-2 adalah menganggap semua bentuk perlawanan terhadap pemerintah atau penguasa sebagai perilaku Khawarij sehingga otomatis semua orang yang beroposisi terhadap pemerintah disebut Khawarij oleh Madkhalis, bahkan sekarang ditambahi dengan julukan teroris. Apapun bentuk perlawanan itu, baik berupa kritik (termasuk keluhan) melalui ucapan dan tulisan, maupun aksi perlawanan bersenjata dengan melakukan generalisasi atau aksi pukul rata semacam ini, sedikitnya ada dua kesalahan besar yang dilakukan para Madkhalis. Pertama, secara tidak langsung (atau tidak sadar?) Madkhalis menuduh istri Rasulullah dan sejumlah sahabat beliau sebagai Khawarij. Kedua, Madkhalis menumpulkan akal sehat masyarakat bahkan lebih buruk lagi menciptakan robot-robot. Menariknya ini sama dengan misi Illuminati. Madkhalis juga menempatkan semua pihak yang tidak sepakat dengan definisi mereka tentang Khawarij sebagai musuh mereka dan musuh penguasa zalim yang mereka sokong. Kesimpulan pertama di atas bukan tanpa bukti, Luqman Ba'abduh, seorang tokoh utama Madkhalis di Indonesia membenarkan hal itu dengan sikapnya.

Luqman yang merupakan murid Muqbil bin Hadi Al Wadi'i dari Yaman dengan vulgar menampilkan penghinaan dan pelecehannya terhadap sahabat Nabi. Dalam buku "Mereka Adalah Teroris", Luqman menulis, "Ulah Khawarij telah menyebabkan terjadinya Peristiwa Al Harrah di Madinah."

Al Harrah adalah nama suatu tempat di Madinah yang merupakan perkampungan Banu Zuhrah. Di tempat ini pasukan Yazid bin Mu'awiyyah yang dipimpin oleh panglimanya, Muslim bin 'Uqbah bertemu dengan penduduk Madinah yang sebelumnya mencabut baiatnya atas Yazid bin Mu'awiyyah. Penduduk Madinah mencabut baiatnya atas Yazid bin Mu'awiyyah setelah mendengar kabar terbunuhnya Hussain bin 'Ali di Karbala. 'Abdullah bin Zubair mempimpin gerakan penduduk Madinah ini. Dia dibantu oleh Abdullah bin Muthi' dan sahabat Nabi yang lain dan tabi'in. Merespon perlawanan penduduk Madinah tersebut, Yazid mengirimkan sebuah pasukan besar untuk menaklukkan Madinah dan menangkap Ibnu Zubair sehingga terjadilah Peristiwa Al Harrah yang mengakibatkan banyak sahabat Rasulullah, tabi'in, dan kaum muslimin terbunuh.

Luqman menulis dalam bukunya, "Peristiwa berdarah di Madinah ini akibat pemberontakan Ibnu Muthi' terhadap Yazid bin Mu'awiyah." Di bagian lain dia menulis, "Sepulang mereka ke Madinah, Abdullah bin Muthi' bersama-sama rekannya mendatangi Muhammad Al Hanafiyyah, putra 'Ali bin Abu Thalib. Dia salah seorang ulama Madinah waktu itu. Ibnu Muthi' dan komplotannya dari kalangan Khawarij menginginkan agar beliau bergabung dengan mereka bersama-sama memberontak terhadap Yazid, namun beliau menolak ajakan tersebut."

Tapi sadar atau tidak, tuduhan mereka juga menerjang istri Rasulullah, Ummul Mukminin 'Aisyah, karena 'Aisyah menentang 'Ali bin Abu Thalib. Maka segera sadar dan bertobatlah para Madkhalis yang memvonis bahwa semua perlawanan terhadap pemerintah itu tindakan Khawarij, Allahu Akbar! Jangankan mengangkat senjata, sekadar melakukan kritik dan demonstrasi saja sudah dicap sebagai pemberontakan dan perbuatan Khawarij oleh Madkhalis.

Referensi Madkhalis dalam mengeneralisir semua tindakan perlawanan terhadap pemerintah sebagai Khawarij tidak lain adalah kitab-kitab karya syekh-syekh Madkhalis. Di antaranya kitab "Madarik An Nazhar fi As Siyyasah" karya 'Abdul Malik Ramadhani Al Jazairi. Buku ini berisi tentang jihad dan politik, khususnya mengenai realitas politik di Al Jazair pada tahun 1991, saat FIS, sebuah partai politik Islam memenangkan pemilu di sana. 'Abdul Malik Ramadhani, asli Al Jazair, sangat benci dengan FIS yang berafiliasi dengan Ikhwanul Muslimin. Dia senang ketika FIS dikudeta militer. 'Abdul Malik kemudian menyalahkan FIS atas terbunuhnya ribuan muslim di tangan aparat militer Al Jazair pascakemenangan FIS dianulir. Apa yang terjadi di Mesir sekarang merupakan pengulangan peristiwa di Al Jazair tahun 1991 itu dan tentunya Madkhalis berada di pihak pengudeta.

Syaikh Abu Bashir Ath Thurthusi mengatakan bahwa 'Abdul Malik Ramadhani tidak pernah terdengar namanya masuk dalam jajaran ulama. Namun meskipun begitu, bagi Madkhalis, 'Abdul Malik Ramadhani adalah seorang syekh yang mereka benarkan semua perkataannya dan mereka ikuti ajarannya. 'Abdul Malik Ramadhani menulis dalam "Madarik An Nazhar", "Walhasil, hanya sekadar memprovokasi massa untuk menentang penguasa muslim (walaupun penguasa itu seorang fasik), maka sudah layak dicap sebagai cara-cara Khawarij."

Fatwa murah meriah 'Abdul Malik ini diadopsi oleh Madkhalis. Dengan demikian (sadar atau tidak), Madkhalis telah menghina dan melecehkan istri Nabi dan sejumlah sahabat yang pernah menentang penguasa di zaman mereka. Sebut saja Ummul Mukminin 'Aisyah dan para sahabat serta tabi'in yang turut bersama beliau dalam Perang Jamal melawan 'Ali bin Abu Thalib. Lalu Mu'awiyyah bin Abu Sufyan dan para sahabat serta tabi'in yang turut bersamanya dalam Perang Shiffin melawan 'Ali bin Abu Thalib. Kemudian Hussain bin 'Ali, 'Abdullah bin Zubair, dan Ibnu Muthi' yang menarik baiatnya dari Yazid bin Mu'awiyyah dan menolak tunduk padanya. Lalu bagaimana dengan para pemimpin negara Banu 'Abbasiyyah yang meraih kekuasaannya melalui perlawanan terhadap pemerintahan Banu 'Umayyah? Lalu bagaimana pula dengan Dinasti As Sa'ud, pujaan para Madkhalis, yang mendirikan kerajaan dari perlawanan terhadap kekuasaan Dinasti 'Utsmaniyyah? Dengan definisi yang dijiplak para Madkhalis dari 'Abdul Malik Ramadhani itu, maka tentu semua yang disebutkan tadi masuk dalam kategori Khawarij. Tentang paradoks definisi Khawarij kepunyaan Madkhalis ini sudah pernah saya uraikan dalam kultwit berjudul "Apakah Mereka Khawarij?".

Adalah gegabah dan sangat kacau ketika Madkhalis mengeneralisir secara mutlak semua perbuatan menentang pemerintah sebagai perilaku Khawarij. Tidak pernah ada ulama tsiqah yang berpendapat seperti itu, kecuali ulama-ulama Madkhalis. Sebuah pemberontakan harus dilihat secara utuh sebab-akibatnya.

Pemerintah dan rakyatnya itu ibaratnya seorang bapak dan anak dalam sebuah rumah tangga. Apakah jika seorang anak mengkritik bapaknya, maka anak itu langsung divonis sebagai pemberontak? Ingin merebut kekuasaan sang bapak? Lalu sah dipukul, disekap, atau bahkan diusir? Tapi bila seorang bapak membawa kemaksiatan ke dalam rumah, berbuat mafsadat dalam keluarga, apakah si anak harus diam saja? Atau si anak berbuat sesuatu untuk menghentikan kemungkaran itu, mulai dari nasihat hingga kekuatan fisik? Merebut kendali rumah? Karena itu setiap perlawanan terhadap pemerintah termasuk pemberontakan bersenjata tidak bisa digeneralisir sebagai perbuatan Khawarij. Bahkan jika konsep ini dipakai, maka rontoklah nilai perjuangan para pahlawan Islam yang mengusir penjajah, termasuk di negeri ini. Karena seringkali para penjajah itu didukung oleh raja-raja atau penguasa-penguasa lokal, para boneka mereka, yang notabene muslim juga.

Maka dengan konsep Madkhalis ini Pangeran Diponegoro yang melawan Belanda yang didukung oleh Raja Jogjakarta yang muslim bisa kena tuduhan Khawarij sebab Sultan Hamengku Buwono V melalui Patih Danuredjo mengakui kekuasaan Belanda sehingga rakyat harusnya patuh dengan kebijakan itu. Walaupun sebenarnya mereka berdua hanyalah boneka atau pelayan penjajah Belanda, tapi secara de jure mereka adalah pemimpin Jogjakarta. Inilah sebagian bukti kekonyolan pemahaman dan keyakinan Madkhalis tentang definisi Khawarij sehingga definisi itu menjadi bumerang buat mereka. Mengenai sikap kritis kaum muslimin terhadap penguasa/pemerintah, jika kita utuh dan jernih melihatnya, sesungguhnya terbagi atas 3.

Sikap pertama, kritis dalam rangka melaksanakan dakwah, yaitu amar ma'ruf nahi munkar dan memberi nasihat kepada sesama muslim. Dalam konteks dakwah ini mereka bicara di mimbar-mimbar, menyebarkan tulisan, dan ada juga yang turun ke jalan untuk menunjukkan perasaan mereka. Tentu ada sebab-akibat kenapa mereka melakukannya secara terbuka seperti itu, yang oleh Madkhalis dicela sebagai tindakan provokasi Khawarij. Bisa jadi karena mereka tidak pernah diberi peluang untuk menyampaikannya secara langsung kepada penguasa yang memiliki karakter feodalisme. Bisa juga karena melihat adanya potensi bahaya yang akan diterima jika disampaikan face to face; berakhir di kamar mayat atau penjara.

Sikap kedua, memberontak kepada pemerintah zalim yang benci dengan syariat Islam, melegalkan perbuatan maksiat, dan menganiaya umat Islam. Sikap ketiga, memberontak atau melakukan kudeta (al inqilab) terhadap pemerintahan muslim yang sah karena hendak merebut kekuasaan.

Sikap yang pertama adalah sikap yang sudah seharusnya dilakukan setiap muslim sebatas kemampuannya, tidak ada terkecuali terhadap penguasa. Apa kalian akan duduk-duduk dan hanya berdoa saja jika penguasa melakukan kezaliman terhadap saudara seimanmu atas nama taat pada penguasa? Apakah jika kalian menyuruh orang-orang untuk mengalah dan diam saja serta tunduk kepada raja yang menganiaya kaum muslimin di negara kalian, kalian akan melakukan yang sama jika aniaya itu menimpa kalian semisal raja membunuh dan memperkosa saudara perempuan kalian, wahai, Madkhalis? Jika jawabnya "ya", berarti sungguh akal kalian sudah melata di atas tanah, nurani kalian sudah mati dan moral kalian sudah tak ada lagi. Banyak dalil baik dari Al Qur'an maupun As Sunnah yang menyuruh seorang muslim untuk menyeru manusia kepada jalan Allah termasuk kepada penguasa. Rasulullah pernah ditanya, "Jihad apakah yang paling utama?" Jawab beliau, "Mengatakan kebenaran di hadapan penguasa zalim." (HR. Ahmad)

Jika demikian, bagaimana mungkin seorang muslim yang mengamalkan hadis itu dicap sebagai Khawarij bahkan teroris oleh geng Madkhalis? Absurd! Jangankan terhadap penguasa zalim, terhadap penguasa yang adil sekalipun, dakwah amar ma'ruf nahi munkar tetap harus ditegakkan. Sebagaimana yang dilakukan 'Aisyah, 'Abdullah bin Zubair, Thalhah bin 'Ubaidullah, Mu'awiyyah bin Abu Sufyan, 'Amr bin Ash, dll. Teramat banyak ulama besar dalam sejarah Islam yang bersikap kritis terhadap penguasa, baik secara tertutup maupun terbuka. Tidak sedikit di antara mereka yang menerima konsekuensi berat atas sikapnya mulai dari diusir, dipenjara, disiksa, bahkan dibunuh. Mereka adalah para ulama yang tidak takut menegakkan kebenaran dan meyakini bahwa ini adalah jihad yang paling utama sesuai sabda Nabi. Mereka memilih meringkuk dipenjara, disetrum, dicabut kukunya, disabet pedang, digantung, dan ditembus peluru daripada menyemir sepatu raja.

Sikap yang kedua, yaitu memberontak kepada pemerintahan zalim dikarenakan suatu sebab syar'i di mana mereka mempunyai alasan kuat dalam hal ini, maka hal tersebut untuk bisa dikategorikan sebagai tindakan Khawarij apalagi terorisme seperti keyakinan dan ocehan asal bunyi para Madkhalis. Ibnu Hajar Al Asqalani berkata dalam "Fathul Bari Syarah Shahih Al Bukhari", "...Dan mereka (orang yang membelot dari pemerintahan yang sah) juga terbagi menjadi dua kelompok. Yang pertama, kelompok yang membelot karena marah disebabkan faktor agama di mana pemerintahnya adalah zalim dan telah meninggalkan sunah Nabi, maka mereka adalah ahlul haqq. Di antara mereka yaitu, Al Hussain bin 'Ali bin Abu Thalib, penduduk Madinah dalam Peristiwa Al Harrah, dan para qurra' yang memberontak terhadap Al Hajjaj. Sedangkan kelompok yang satunya lagi, yaitu kelompok yang memberontak hanya karena hendak merebut kekuasaan saja, baik mereka memiliki alasan atau tidak, maka mereka adalah bughat."

Dengan demikian, maka kelompok terakhir yang disebut oleh Ibnu Hajar ini cocok dengan geng ilegal yang merebut kekuasaan di Mesir baru-baru ini (rezim 'Abdul Fattah As Sisi yang didukung Madkhalis dan Syi'ah Rafidhah). Ironisnya, kelompok yang disebut Ibnu Hajar melakukan bughat itu, didukung oleh tokoh-tokoh Madkhalis, plus orang-orang kafir termasuk Syi'ah Rafidhah. Sedangkan bughat itu sendiri adalah istilah untuk perbuatan yang dilakukan Khawarij, tapi mengapa para Madkhalis mendukung tindakan Khawarij? Ibnu Hajar Al Asqalani dalam kitab yang sama juga menukil atsar dari 'Ali yang diriwayatkan oleh Imam Ibnu Jarir Ath Thabari. 'Ali bin Abu Thalib radhiyallahu'anhu berkata tentang Khawarij, "Apabila mereka memberontak terhadap imam yang adil, maka perangilah mereka. Tetapi jika mereka memberontak terhadap imam yang zalim, maka janganlah kalian memerangi mereka karena mereka mempunyai alasan."

Syaikh Muhammad Shalih Al Gharsi berkata, "Para ulama sepakat bahwa untuk boleh memerangi orang-orang yang memberontak terhadap penguasa yang zalim dikarenakan kezalimannya dan perbuatannya yang meninggalkan sunah. Bahkan seorang penguasa wajib menahan diri dari kezalimannya dan menegakkan sunah. Jika penguasa sudah melakukan hal ini tetapi mereka masih memberontak, maka saat itulah mereka boleh diperangi."

Lalu Syaikh Al Gharsi menukil perkataan Imam Muhyiddin An Nawawi dalam "Al Minhaj", "Para pemberontak tidak boleh diperangi sebelum diutus seorang utusan yang bisa dipercaya dan cerdas kepada mereka untuk menasihati mereka dan menanyakan apa yang mereka kehendaki. Sekiranya mereka menyebutkan suatu kezaliman atau alasan, maka hal tersebut (kezaliman) harus dihilangkan."

Tweeps, lihatlah bahwa ternyata definisi Khawarij (bahkan sekarang disandingkan dengan julukan teroris) tidak murah meriah sebagaimana keyakinan Madkhalis. Ke mana akal para Madkhalis itu dilarikan setan sehingga mereka latah menuduh perbuatan mengkritik dan demonstrasi terhadap pemerintah sebagai Khawarij, sedangkan ulama-ulama tsiqah seperti Ibnu Hajar Al Asqalani yang menjadi rujukan para ulama setelah beliau tidak royal dengan julukan Khawarij. Diskon besar-besaran yang diberikan Madkhalis terhadap definisi Khawarij tentu ada kaitannya dengan misi melanggengkan kekuasaan dinasti tertentu. Tidak heran di berbagai negara, para penguasa zalim, korup, dan tukang tipu sangat senang dengan keberadaan Madkhalis dan mengangkat mereka sebagai mitra. Sementara Madkhalis juga memetik keuntungan materi dan keleluasaan yang diberikan para penguasa atas perkembangan "dakwah" mereka. Sikap kaum muslimin yang ketiga terhadap penguasa atau pemerintah yang sah adalah memberontak kepada pemerintah yang sah atau imam yang adil dikarenakan faktor kekuasaan, yang mana mereka hendak merebut kekuasaan tersebut. Mereka itulah kelompok yang disebut oleh Ibnu Hajar sebagai bughat, maka dalam hal ini yang berlaku adalah hukum terhadap tindakan bughat atau Khawarij, yaitu diperangi sampai mereka menyerah dan bertobat. Jadi, jika ada sekelompok orang yang memberontak terhadap pemerintahan yang sah demi untuk merebut dan menduduki kekuasaan, apapun alasannya, maka mereka adalah pemberontak alias bughat. Merekalah kelompok yang disebut Khawarij karena itu harus diperangi dan ditumpas. Yang menjadi pertanyaan besar sekarang, kelompok yang identik dengan Khawarij ini sekarang bercokol di Mesir setelah melakukan kudeta berdarah, tapi mereka justru dibela oleh Madkhalis termasuk pembelaan Madkhalis terhadap sikap para raja yang mendukung kudeta kelompok Khawarij itu. Seharusnya kelompok Khawarij itu diperangi dan ditumpas, bukannya didukung dan dibela dengan memelintir berbagai dalil tanpa rasa malu. Bahkan puncak dari segala keburukannya, Madkhalis berfatwa menghalalkan darah kaum muslimin yang menentang kekuasaan kelompok Khawarij itu. Sekali lagi ke mana akal sehat Madkhalis dilarikan setan sehingga kaum muslimin yang seharusnya dibela justru dihalalkan darahnya untuk dibunuh.

Simaklah ucapan Salim Ath Thawil, seorang syekh Madkhalis dari Kuwait saat ditanya tentang jihad di Suriyyah. Dia berkata, "Tidak satu pun pejuang Suriyyah itu yang hendak menegakkan tauhid, mereka semua berperang demi tempat suci (kuburan), demokrasi, kebebasan dan kediktatoran (kekuasaan). Mereka tidak berjuang demi Allah. Masalahnya mereka tidak paham makna tauhid."

Bandingkan sikap dan jawabannya saat ditanya soal orang-orang Syi'ah yang membantai kaum muslimin di Suriyyah hingga mujahidin memerangi mereka.

Simak juga ucapan Tal'at Zahran, seorang syekh Madkhalis di Mesir tentang kaum muslimin Suriyyah yang berjuang melawan 'Assad. Dia tidak mau membahas soal itu dan berkata dia dilarang membicarakannya. Oleh siapa? Imam Syi'ah di Iran atau tuan besar di Amerika? Sedangkan saat ini kekuatan tersebut belum ada, maka orang-orang Suriyyah yang menentang Assad, seperti dengan cara demonstrasi telah berbuat keliru. Dia berkata, "'Assad ditumbangkan hanya jika sudah tersedia kekuatan yang memadai/sebanding untuk mengalahkannya dan tidak menimbulkan bahaya karena itu mereka layak menerima pembunuhan dan pembantaian massal dari rezim 'Assad. Jadi tidak usah bersedih atas apa yang menimpa mereka."

Tercekat tenggorokan kita mendengar ucapan Tal'at Raslan, tapi untungnya dalam video itu seorang anak Suriyyah sudah membantah ucapannya. Semoga Allah memberikan ganjaran yang setimpal kepada Tal'at Raslan atas perbuatannya dan kita berlindung kepada Allah dari keburukan para Madkhalis Berkaitan dengan jihad, Imam Ibnu Qudamah Al Maqdisi berkata dalam Al-Mughni, "Dan wajib atas manusia baik yang miskin ataupun yang kaya untuk keluar berperang jika musuh telah datang, namun mereka tidak boleh keluar berperang sebelum diizinkan oleh amir, kecuali jika musuh datang secara tiba-tiba dan dikhawatirkan mereka (kaum muslimin) akan dikuasai oleh musuh sehingga tidak memungkinkan bagi mereka untuk minta izin kepada pemimpin… Dan tidak dibolehkan bagi seorang pun untuk tidak berperang, kecuali orang yang memang diperlukan untuk tetap tinggal demi menjaga wilayahnya, keluarganya, dan hartanya, serta mereka yang dilarang keluar oleh amir. Dan karena sesungguhnya bila musuh telah datang, maka jihad pun menjadi fardhu 'ain sehingga semuanya wajib turut berperang dan tidak ada seorang pun yang boleh ketinggalan."

Ciri khas Madkhalis yang ke-3 adalah menyamakan jihad dengan teror, menyamakan mujahid dengan teroris, dan menyamakan aksi bom syahid dengan bom bunuh diri. Ironinya ciri yang ke-3 ini juga dimiliki oleh musuh-musuh Islam dari kalangan Yahudi, Nashrani, liberal, dan Syi'ah. Bahkan istilah jihad sama dengan teror dan mujahid sama dengan teroris itu pertama kali dipopulerkan oleh orang-orang kafir yang memusuhi Islam.

Mengapa para Madkhalis menari dengan gendang musuh-musuh Islam? Bahkan pernah mengirim surat ke SBY untuk mendukung pembunuhan muslim yang diduga teroris. Betapa banyak pemuda-pemuda Islam yang statusnya baru terduga ditembak mati oleh Densus 88? Ternyata mereka bukan teroris. Madkhalis senangkah dengan hal ini? Seperti yang kita ketahui, di banyak tempat yang dihuni oleh kaum muslimin sedang berlangsung pembunuhan, penganiayaan, dan penistaan terhadap mereka. Karena itu, tidak sedikit gerakan dakwah Islam atau jemaah Islam yang menyerukan jihad dalam segala bentuk untuk menolong kaum muslimin. Terutama di bumi Syam, khususnya Palestina dan Suriyyah. Namun, kaum Madkhalis justru mencela seruan untuk berjihad maupun jihad itu sendiri. Menurut mereka, jihad di Palestina dan Suriyyah tidak syar'i atau tidak memenuhi syarat-syarat jihad karena tidak didukung oleh ulama hadis masa kini. Ulama hadis yang mereka maksud salah satunya adalah Syaikh Al Albani, nanti kita lihat seperti apa fatwa beliau soal jihad di Palestina.

Syaikh Al Albani sendiri bukanlah tokoh atau ulama Madkhalis, namun ucapannya sering dipakai oleh Madkhalis sebagai bahan untuk menghantam musuh-musuh mereka. Salah satu sifat unik Madkhalis adalah suka memakai ucapan/fatwa ulama yang bersesuaian dengan keinginan mereka dan menjadikan ulama tersebut sebagai rujukan. Tapi, bila ulama tersebut "tergelincir" mengeluarkan fatwa yang bertentangan dengan hawa nafsu Madkhalis, maka mereka akan men-tahdzir atau mencelanya.

Sekarang, mari kita bahas fatwa Syaikh Al Albani soal jihad di Palestina yang menjadi senjata Madkhalis dalam menafikan jihad di berbagai tempat. Syaikh Al Albani pernah berfatwa agar kaum muslimin Palestina hijrah meninggalkan tanah kelahirannya yang dijajah Israel guna menyusun dan menggalang kekuatan iman dan fisik di tempat lain sebelum balik merebut Palestina dari tangan teroris Zionis Israel. Dalam hal ini, qiyas (analogi) yang digunakan beliau adalah hijrahnya Rasulullah dan kaum muslimin dari Makkah ke Madinah pada tahun 1 H. Fatwa ini sudah disanggah oleh banyak ulama, baik yang bertempat tinggal di Palestina maupun yang berada di luar Palestina dan mendukung jihad. Tanpa mengurangi rasa hormat kepada Syaikh Al Albani dan ulama yang sependapat dengan beliau, berikut kami tampilkan sebagian sanggah tersebut.

Sanggahan Pertama

Hijrahnya Nabi ke Madinah memperkuat kedudukan kaum muslimin dengan bertambahnya kualitas dan kuantitas mereka. Baik bertambah dengan masuk Islamnya tokoh-tokoh terkemuka Quraisy di Makkah yang membuat nyawa mereka terancam jika tetap tinggal di sana, maupun bertambah dengan masuk Islamnya dua suku besar di Madinah yang menyediakan tempat bagi Nabi untuk mengembangkan dakwah Islam dan hijrahnya Nabi dan kaum muslimin melemahkan kedudukan orang-orang kafir karena banyak tokoh atau kerabat mereka yang muslim pergi meninggalkan Makkah. Berlawanan dengan kondisi di Palestina, apabila muslim hijrah meninggalkan tanah kelahirannya, maka itu justru akan memperkuat Yahudi. Mereka akan leluasa menduduki tanah milik kaum muslimin dan mendirikan kota-kota sehingga orang-orang Yahudi di seluruh dunia tertarik untuk datang lalu Palestina akan berubah menjadi negeri Yahudi yang cepat atau lambat akan menyerang negara-negara 'Arab lainnya dan mendudukinya seperti Palestina, sedangkan dihadang dan dilawan saja oleh kaum muslimin Palestina, teroris Israel itu tetap saja berkuasa menduduki tanah-tanah milik mereka. Apabila jika kaum muslimin Palestina hijrah dari sana, tentu para teroris itu lebih cepat merampas seluruh harta kaum muslimin. Bahkan sangat mungkin hijrah itu akan memotivasi Israel untuk merampas tanah-tanah kaum muslimin 'Arab lainnya; di mulai dari 'Urdun dan Libanun.

Bangsa 'Arab di luar Palestina harusnya berterima kasih kepada bangsa Palestina karena mereka menjadi bumper melindungi mereka dari Israel. Jika bukan karena kegigihan dan pengorbanan bangsa Palestina mempertahankan negerinya, mungkin sudah lama Zionis mewujudkan Israel Raya. Sangat naif jika berharap orang-orang Yahudi yang saat ini menduduki Palestina akan memeluk Islam seperti yang terjadi pada kaum kafir Makkah, lalu kekuatab mereka berkurang dengan masuknya sebagian mereka ke dalam Islam. Hal ini sungguh mustahil, kecuali Allah berkehendak lain. Kemudian bisakah hijrahnya bangsa Palestina akan memperkuat mereka? Negara mana yang akan menyambut dan membantu mereka membangun kekuatan?

Jangan mimpi jika ada bangsa yang saat ini mau menyediakan tempat bagi rakyat Palestina untuk membangun kekuatan melawan Zionis Israel. Paling banter hanya menyediakan tempat untuk mengungsi seperti yang tampak di Libanun, 'Urdun, dan sejumlah negeri Eropa dan Amerika Latin. 'Arab Sa'udi yang notabene tempat keluarnya fatwa hijrah tersebut tidak memberikan solusi bagi misi membangun kekuatan melawab Zionis Israel. Berani 'Arab Sa'udi menampung rakyat Palestina lalu memberikan senjata, pelatihan militer, dan logistik untuk merebut kembali Palestina? Yang ada justru 'Arab Sa'udi menyediakan tempat bagi tentara kafir Amerika untuk menguasai 'Iraq yang sekarang menyerahkannya ke tangan Syi'ah.

Sanggahan Kedua

Ketika Nabi dan kaum muslimin hijrah dari Makkah, saat itu kaum muslimin yang ada di Madinah adalah minoritas. Jika analogi itu dipakai untuk kondisi Palestina saat ini, apakah bangsa Palestina juga harus hijrah ke negeri yang muslimnya minoritas? Lalu mendakwahkan Islam dan membangun kekuatan di sana? Negeri manakah yang cocok dengan qiyas itu? Tentunya negeri-negeri Barat, China, dll., sedangkan di 'Arab Sa'udi saja hal itu sangat mustahil terjadi (kecuali Allah berkehendak), apalagi di negara-negara yang dikuasai orang kafir. Apakah penguasa negeri-negeri kafir itu akan mengizinkan bangsa Palestina mendakwahkan Islam dan membangun kekuatan untuk melawan Zionis? Lagipula untuk saat ini negara mana yang mau menerima pengungsi Palestina secara utuh sehingga bangsa Palestina bisa berkumpul di sana? Semua negara hanya mau menerima pengungsi Palestina secara terbatas sehingga bangsa Palestina terpencar-pencar di berbagai tempat. Bagaimana akan membangun kekuatan dalam kondisi terpencar-pencar seperti itu? Padahal kondisi ini justru diinginkan musuh-musuh Islam.

Sanggahan Ketiga

Kaum kafir Makkah ketika itu adalah penduduk asli Makkah dan mereka bukan pendatang apalagi penjajah seperti Zionis, maka wajar jika mereka tetap berada di Makkah, menempati tanah dan bangunan mereka atau menguasai harta mereka karena mereka punya hak di sana, sedangkan Yahudi adalah pendatang, perampok, dan penjajah. Mereka membunuh, menganiaya, dan mengusir kaum muslimin lalu merampas harta mereka, maka jika kaum muslimin Palestina hijrah ke luar negeri tentu para penjahat itu akan bersorak gembira dan berpesta untuk merayakannya. Padahal kaum Zionis Yahudi itu tidak punya hak atas Palestina sebagaimana halnya hak yang dimiliki kaum kafir Quraisy atas Makkah. Lalu kenapa bangsa Palestina harus hijrah dari tanah mereka? Padahal mereka pemilik sah wilayah itu? Bukankah seharusnya dipertahankan?

Sanggahan Keempat

Rasulullah dan kaum muslimin hijrah ke tempat yang justru banyak kaum Yahudinya lalu mengalahkan dan mengusir mereka, tapi Nabi bukannya lari melainkan malah menghadapinya sehingga berkat kegigihan beliau, kaum Yahudi yang kuat itu berhasil dikalahkan. Padahal saat itu Yahudi terdiri atas 4 kabilah berkekuatan besar, yaitu Banu Qainuqa', Banu Nadhir, Banu Khaibar dan Banu Quraizhah. Jika fakta ini di-qiyas-kan dengan keadaan hari ini, bukankah seharusnya bangsa Palestina bertahan di negerinya dan mengalahkan Yahudi?

Sanggahan Kelima

Sejak dulu Palestina adalah bumi jihad, kaum muslimin dan para pemimpinnya silih berganti mempertahankan negeri ini. Tidak terhitung jumlah syuhada, orang tua maupun anak-anak yang pergi menemui Rabb-nya untuk mempertahankan Palestina dari rongrongan kaum kafir. Maka menyuruh bangsa Palestina hijrah meninggalkan negerinya entah ke mana dan hanya memperbanyak sabar tentu bukan saran yang realistis. Apa yang akan kita katakan kepada Allah kelak jika kita menyuruh mereka lari? Mengapa mereka tidak boleh melawan para penjajah itu? Sedangkan Allah Ta'ala berfirman:
يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْۤا اِذَا لَقِيْتُمُ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا زَحْفًا فَلَا تُوَلُّوْهُمُ الْاَدْبَارَ وَمَنْ يُّوَلِّهِمْ يَوْمَئِذٍ دُبُرَهٗۤ اِلَّا مُتَحَرِّفًا لِّقِتَالٍ اَوْ مُتَحَيِّزًا اِلٰى فِئَةٍ فَقَدْ بَآءَ بِغَضَبٍ مِّنَ اللّٰهِ وَمَأْوٰٮهُ جَهَـنَّمُ ؕ وَبِئْسَ الْمَصِيْرُ
"Wahai, orang-orang yang beriman! Apabila kamu bertemu dengan orang-orang kafir yang akan menyerangmu, maka janganlah kamu berbalik membelakangi mereka (mundur). Dan barang siapa mundur pada waktu itu, kecuali berbelok untuk (siasat) perang atau hendak menggabungkan diri dengan pasukan yang lain, maka sungguh orang itu kembali dengan membawa kemurkaan dari Allah. Tempatnya ialah neraka Jahannam, dan seburuk-buruk tempat kembali."
(QS. Al Anfal: 15-16)

Rasulullah bersabda, "Jauhilah oleh kalian tujuh dosa besar yang menghancurkan." Ada yang bertanya, "Wahai, Rasululah, apa saja itu?" Beliau bersabda, "Menyekutukan Allah, sihir, membunuh jiwa yang diharamkan Allah kecuali dengan haqq, memakan riba, memakan harta anak yatim, melarikan diri dari medan perang, dan menuduh berzina kepada seorang perempuan beriman..."
(HR. Abu Dawud)

Sejarah menunjukkan betapa kaum-kaum terjajah mampu mengalahkan para penjajah yang memiliki kekuatan ratusan kali lipat dari mereka yang secara nalar manusia saja, hal itu mustahil terjadi. Bahkan di Indonesia orang bilang bambu runcing mengalahkan meriam Belanda. Cukuplah kita mengambil peristiwa Perang Badar sebagai bukti bahwa kekuatan yang besar tidak selalu berbanding lurus dengan kemenangan. Kaum muslimin meyakini bahwa Allah selalu menolong perjuangan mereka, sementara orang-orang kafir itu ditolong oleh setan-setan dan tagut-tagut mereka. Maka mencela jihad di bumi Palestina, Suriyyah, Afghanistan, dan yang lain dengan mengatakan bahwa jihad di sana tidak syar'i, ngawur, dsb. ibarat mengatakan bahwa kaum muslimin yang gugur dalam jihad di wilayah-wilayah itu adalah orang-orang yang mati sia-sia atau mati konyol, na'udzubillah. Padahal Allah Ta'ala berfirman:
وَلَا تَحْسَبَنَّ الَّذِيْنَ قُتِلُوْا فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ اَمْوَاتًا ؕ بَلْ اَحْيَآءٌ عِنْدَ رَبِّهِمْ يُرْزَقُوْنَ
"Dan jangan sekali-kali kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; sebenarnya mereka itu hidup, di sisi Tuhannya mendapat rezeki,"
(QS. Alu 'Imran: 169)

Nabi bersabda, "Ada 6 kelebihan bagi orang-orang yang mati syahid di sisi Allah, yaitu Allah mengampuninya saat pertama kali darahnya mengucur, diperlihatkan tempat tinggalnya di surga, diselamatkan dari siksa kubur, aman dari huru-hara terbesar (kiamat), diberi perhiasan iman, dinikahkan dengan bidadari, dan bisa memberikan syafaat untuk tujuh puluh orang kerabatnya." (HR. Ibnu Majjah, At Tirmidzi, dan Ahmad)

Nabi bersabda, "Pokok urusan adalah Islam, tiangnya adalah salat, dan puncak tertingginya adalah jihad." (HR. Ahmad dan Ibnu Majjah)

Maka apakah pantas Madkhalis mencela para mujahid yang pergi menyambut tangis wanita dan anak-anak kaum muslimin di negeri-negeri teraniaya itu? Tidak malukah Madkhalis mencela para mujahid yang meregang nyawa, bercucuran darah, dan diterpa kesulitan demi 'izzah Islam sementara mereka duduk-duduk saja?

Jika fatwa beliau itu dibawa untuk kondisi Palestina, bagaimana seharusnya bangsa Palestina bersikap? Hijrah atau melawan Zionis Israel? Syaikh Muhammad Al 'Utsaimin pernah berkata, "Para ulama mengatakan bahwa jihad menjadi wajib dan fardhu 'ain dalam 4 kondisi.
1). Ketika telah berhadap-hadapan dengan musuh, dalilnya firman Allah dan hadis-hadis yang telah disebutkan di awal, yaitu QS. Al-Anfal: 15-16.
2) Apabila telah dipanggil berjihad oleh imam, yakni ketika imam telah mengatakan: keluarlah dan berperang!
3) Apabila musuh telah mengepung negerinya. Pada saat itu maka jihad pun telah menjadi wajib. Ini adalah jihad mempertahankan diri. Karena jika musuh telah mengepung suatu negeri, maka artinya semua penduduknya berada dalam kondisi terancam pada kehancuran.
4) Apabila dibutuhkan untuk berjihad. Maksudnya jika seseorang secara personal sudah dibutuhkan untuk berjihad maka dia wajib berangkat."

Demikian pendapat Syaikh Muhammad bin Shalih Al 'Utsaimin. Bagaimana dengan kondisi Palestina? Apakah kriteria-kriteria tersebut terpenuhi? Bagaimana pula kondisi Suriyyah, Afghanistan, 'Iraq, Iran, Myanmar, Sumalia, Sudan, Dammaj, Kashmir, dll.? Kita cukupkan sampai di sini kultwit tentang Madkhalis. Ciri khas ke-3 ini belum tuntas.

Sekian kultwit lanjutan Madkhalis hari ini. Tetap pelihara iman dan akal sehat, jangan sampai dicuri oleh kaki tangan setan. Wallahu a'lam.

Sumber: Cumi Cola. 1440 H. Sekte Madkhaliyyah dan Tuduhan Khawarij. Wilayah Syarqi Asia: Maktabah Darul Islam.