بسم الله الرحمن الرحيم
Oleh Attaqi Arsalan

Sesungguhnya ketaatan kepada Ulil Amri adalah kewajiban bagi seluruh masyarakat muslim. Meski SEANDAINYA pemimpin itu zalim terhadap rakyatnya dan ia adalah orang fasik, kaum muslimin tetap TIDAK boleh KELUAR dari ketaatan terhadapnya di dalam yang makruf, dalam keadaan senang maupun susah. Begitupula sebaliknya, meskipun pemimpin itu adalah orang shalih yang dimuliakan rakyatnya serta shahih manhajnya, seorang muslim tidak boleh taat padanya dalam KEMAKSIATAN.

Sebagaimana Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
السمع والطاعة على المرء المسلم فيما أحب وكره، ما لم يؤمر بمعصية، فإذا أُمِر بمعصية فلا سمع ولا طاعة
"Seorang muslim wajib mendengar dan taat dalam perkara yang dia sukai atau benci selama tidak diperintahkan untuk bermaksiat. Apabila diperintahkan untuk bermaksiat, maka baginya tidak mendengar dan tidak taat."
[HR. Bukhari-Muslim]

Imam An-Nawawi rahimahullah berkata:
لا يجوز الخروج على الخلفاء بمجرد الظلم أو الفسق ما لم يغيروا شيئا من قواعد الإسلام "Tidak diperbolehkan keluar dari ketaatan pada Khalifah hanya dengan kedzaliman atau kefasikan yang tidak merubah sedikitpun dari kaedah-kaedah (pondasi) islam"
[Syarah Shahih Muslim 12/243]

Maka di sini terdapat dua perbedaan yang besar dan ia termasuk pondasi dari agama ini.
- Yang pertama yaitu ketaatan mutlak hanyalah kepada Allah dan RasulNya sedangkan ketaatan pada Ulil Amri itu muqayyadah (terikat).
- Yang kedua adalah perbedaan antara tidak taat dalam kemaksiatan dan keluar (الخروج) dari ketaatan. Siapa yang memahami perbedaan keduanya, maka ia telah mengerti apa yang dikandung oleh As-Sam'u Wat-Tha'ah.

Maka ketika sebagian ikhwah tidak mau taat dalam suatu hal yang salah, bukan berarti mereka keluar dari ketaatan. Akan tetapi kebanyakan orang sepertinya tak bisa membedakan kedua hal ini, sedangkan keduanya adalah perkara yang besar dan tak bisa seseorang serampangan terhadapnya. Sebab ia akan menyebabkan suatu musibah yang besar pula. Wallahul Musta'an.

Karena keluar dari ketaatan adalah sesuatu yang haram berdasarkan Ijma', sebagaimana yang dikatakan imam An-Nawawi rahimahullah:
وأما الخروج عليهم (يعني الأئمة) وقتالهم فحرام بإجماع المسلمين وإن كانوا فسقة ظالمين
"Adapun keluar dari ketaatan pada mereka (yakni para pemimpin) dan memerangi mereka, ia adalah perbuatan yang haram berdasarkan ijma' kaum muslimin meskipun pemimpin itu fasik lagi dzalim"
[Syarah Shahih Muslim 12/229]

Sedangkan tidak taat dalam kemaksiatan dan menasihati pemimpin adalah sebuah kewajiban. Berkata imam Ibnu Abdil Barr rahimahullah:
وأما مناصحة ولاة الأمر فلم يختلف العلماء في وجوبها
"Adapun menasehati ulil amri, maka tidak ada ikhtilaf di kalangan para ulama akan kewajibannya"
[Al-Istidzkar 27/361]

Miris ketika melihat banyak orang yang tak bisa membedakan dua perkara ini. Ketika ada seseorang yang mengkritisi sebuah kesalahan di dalam khilafah, mereka menyimpulkan bahwa ia telah keluar dari ketaatan, menuduhnya sebagai pemecah belah kaum muslimin, dan menyelisihi ijma' kaum muslimin, bahkan sebagian mereka menghalalkan darahnya. Wal'iyadzubillah!

Sebagian lainnya, memberikan doa Mubahalah akan kehancuran orang tersebut atau kehancuran khilafah. Subhanallah. Doa yang digunakan untuk bermubahalah terhadap kaum shahawat yang jelas-jelas memerangi Khilafah, diterapkan kepada seseorang yang hanya mengkritisi sebuah kesalahan. Wallahul Musta'an.

Maka ayyuhal ikhwah, senantiasalah mempelajari batasan-batasan agama kita, mempelajari ilmu, mencintainya, dan mencintai ahlul 'ilmi. Agar suatu hari tak ada penyesalan mendalam bagi diri kita sendiri di dunia dan akhirat.

Dan kami serukan kepada ikhwah seluruhnya, untuk taat pada pemimpin kaum muslimin dalam keadaan senang maupun susah. Berkata Amirul Mukminin hafidzahullah dalam Khutbah Jum'at, dimana beliau mengutip perkataan Sahabat Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiallahu 'anh:
فإن رأيتموني على حقٍّ فأعينوني، وإن رأيتموني على باطل فانصحوني وسدِّدوني. أطيعوني ما أطعتُ الله فيكم، فإذا عصيتُه فلا طاعة لي عليكم.
"Jika kalian melihatku di atas Al-Haqq maka bantulah aku. Jika kalian melihatku diatas kesalahan maka nasihatilah aku dan bimbinglah aku. Taatilah aku dalam ketaatanku pada Allah di dalam diri kalian. Dan apabila aku bermaksiat kepadaNya maka tidak ada ketaatan bagiku atas kalian."

Ketidaktaatan kami kepada kemaksiatan dan menasehati kesalahan adalah bentuk ketaatan kami kepada Allah, RasulNya, juga Ulil Amri. Dan kami juga membenci tindakan keluar dari ketaatan atas pemimpin. Dan kami tak pernah mengharapkan kehancuran khilafah ataupun pemimpin kami. Bahkan sebaliknya, kami mendoakan keselamatan manhajnya, pemimpin-pemimpinnya, Ulama nya, Junud nya, dan seluruh sendi-sendinya. Karena kami menyayangi mereka, sebagaimana kami menyayangi diri kami sendiri.

Wallahu A'lam Bisshawab

Attaqiy Arsalan @
Artikel Islam.WBlog.Id