بسم الله الرحمن الرحيم
Oleh Abu Qatadah Al Barbahari

Ketika Ahlus Sunnah wal Jama’ah lemah, sedang ahli bidah berkuasa dan mendominasi, maka umat pun bingung dan muncul pertanyaan dari mereka, seperti bolehkah mengambil ilmu dari ahli bidah?

Ayyuhal ikhwah, pembahasan seputar hukum mengambil ilmu dari ahli bidah pada hakikatnya sama dengan hukum mengambil periwayatan hadis dari ahli bidah dan para muhadditsin pun telah menjelaskan hukum mengambil periwayatan hadis dari mereka.

1. Kelompok pertama mengharamkan mengambil periwayatan hadis dari ahli bidah. Ini adalah pendapat Ibnu Sirin, Malik, Ibnu Uyainah, Al Humaidi, Yunus bin Abu Ishaq, Ali bin Harb, dan lain-lain.
2. Kelompok kedua memberi keringanan dengan syarat seorang mubtadi tersebut tidak tertuduh pendusta. Ini adalah pendapat Abu Hanifah, Asy Syafi’i, Yahya bin Sa'id, dan Ali bin Al Madini.
3. Kelompok ketiga merinci, yaitu jika mubtadi tersebut menyeru kepada bidahnya, maka riwayatnya ditolak. Ada pun jika tidak menyeru, maka diterima. Ini adalah pendapat Ibnul Mubarak, Ibnu Mahdi, Ahmad bin Hanbal, Yahya bin Ma’in, dan bahkan diriwayatkan pula dari Malik.

Jadi inilah pendapat 3 kelompok ulama dalam menyikapi periwayatan ahlul bid’ah. Telah kami sampaikan bahwasanya tidak ada perbedaan antara hukum mengambil ilmu dari ahlul bid’ah dan hukum mengambil periwayatan hadis dari mereka. Saya dalam hal ini lebih condong mengikuti pendapat ketiga. Allahu a’lam.

Catatan Kaki:
[1] Silahkan lihat pembahasan ini dalam Kitab Syarhu ‘Ilalit Tirmidzi karya Ibnu Rajab Al Hanbali, hal. 53-54

Abu Qatadah Al Barbahari @ Fawaid Ilmiyyah
Artikel Islam.WBlog.Id