بسم الله الرحمن الرحيم
Oleh Athiyyatullah Al Libbi

Dalam perkara-perkara yang sifatnya rincian-rincian dan cabang-cabang yang belum ia ketahui, ia belum menemukan jawaban tuntas tentangnya, dan ia belum melakukan penelitian dan pengkajian yang mendalam tentangnya; maka hendaklah ia mengatakan: “Aku tidak tahu, aku tidak mengerti, Allah tidak membebani seseorang kecuali sesuai kesanggupannya dan Allah tidak membebani seseorang kecuali sesuai potensi yang telah dikaruniakan kepadanya.”

Dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata,
يَا أَيُّهَا النَّاسُ، مَنْ عَلِمَ شَيْئًا فَلْيَقُلْ بِهِ، وَمَنْ لَمْ يَعْلَمْ فَلْيَقُلِ اللَّهُ أَعْلَمُ، فَإِنَّ مِنَ العِلْمِ أَنْ يَقُولَ لِمَا لاَ يَعْلَمُ اللَّهُ أَعْلَمُ، قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ لِنَبِيِّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: {قُلْ مَا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ مِنْ أَجْرٍ وَمَا أَنَا مِنَ المُتَكَلِّفِينَ}
“Wahai masyarakat, barang siapa mengetahui sesuatu maka hendaklah ia mengatakannya. Dan barangsiapa tidak mengetahui sesuatu maka hendaklah ia mengatakan Allahu a’lam (Allah Yang lebih mengetahui). Karena di antara bagian dari ilmu adalah mengatakan atas hal yang belum ia ketahui Allahu a’lam. Allah berfirman kepada nabi-Nya:
قُلْ مَا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ مِنْ أَجْرٍ وَمَا أَنَا مِنَ المُتَكَلِّفِينَ
Katakanlah: “Aku tidak meminta upah sedikit pun dari kalian atas dakwah ini dan aku bukan termasuk orang-orang yang mengada-ada (memaksakan diri di luar kesanggupan).
QS. Shad [38]: 86
(HR. Bukhari dan Muslim)

Ketahuilah oleh kalian bahwa hal ini merupakan salah satu pokok yang agung dalam pokok-pokok manhaj Islam dan jalan yang lurus. Karena sesungguhnya hal yang dikehendaki dari setiap hamba pada awalnya adalah keimanan secara global, yaitu memenuhi sejak awal perintah Allah dan Rasul-Nya, itulah makna syahadat asyhadu an laa ilaaha illa Allahu wa asyhadu anna Muhammad rasulullah.

Sebab, makna dua kalimat syahadat adalah menghadapkan diri kepada Allah dengan beribadah kepada Allah semata tiada sekutu bagi-Nya, mencampakkan segala sesuatu yang diibadahi selain Allah dan mengkufurinya, mengikuti nabi dan rasul-Nya Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam setiap ajaran yang dibawanya dan membenarkan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam setiap berita yang beliau kabarkan. Inilah keimanan, keislaman, dan tauhid secara global.

Kemudian rincian-rincian (ajaran agama) setelah itu mengikuti sesuai dengan kadar ilmu. Rincian-rincian itu memiliki tingkatan-tingkatan yang berbeda-beda, tidak setiap cabang-cabang iman dan rincian-rincian iman berada dalam satu tingkatan yang sama. Sebagaimana disabdakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:
الْإِيمَانُ بِضْعٌ وَسَبْعُونَ شُعْبَةً، فَأَفْضَلُهَا قَوْلُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، وَأَدْنَاهَا إِمَاطَةُ الْأَذَى عَنِ الطَّرِيقِ
“Iman itu lebih dari tujuh puluh cabang. Cabang iman yang paling tinggi (utama) adalah laa ilaaha illa Allah dan cabang iman yang paling rendah adalah menyingkirkan duri dari jalan.”

Dan dalil-dalil lainnya yang menunjukkan hal ini. Masalah ini tidak diperselisihkan lagi oleh para ulama. Iman yang terperinci berbeda dari satu orang ke orang lainnya sesuai kadar ilmu, maksudnya sesuai kadar sampainya ilmu kepada seseorang, kesungguhannya, pembelajarannya dan pengetahuannya dengan ajaran yang dibawa oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan apa yang ditunjukkan oleh syariatnya. Seorang ulama tentu berbeda dengan orang awam yang bodoh. Seorang pakar spesialis dalam ilmu-ilmu agama dan syariat tentu berbeda dengan seorang petani yang buta huruf di ladangnya dan seorang nenek tua di kampung. Dan seterusnya. Maka barangsiapa telah sampai ilmu tentang sebuah masalah kepada dirinya, ia mampu menelitinya, memastikannya dan mengetahui bahwa hal tersebut benar-benar berasal dari agama Allah; dengan cara ia mengetahui dalilnya dari Al-Qur’an dan As-Sunnah jika ia termasuk orang yang berilmu (ulama), pengkajian dan pemahaman terhadap Al-Qur’an, As-Sunnah dan sisi penunjukan dalil; atau dengan cara ia bertanya kepada seorang ulama yang terpercaya dalam urusan agama dan ilmu, sehingga ulama tersebut menunjukkan dan menjelaskannya kepadanya lalu ia menerima dan mengambil penjelasan ulama tersebut; maka orang seperti ini wajib mengimani ilmu yang ditunjukkan oleh “dalil” bahwa ia termasuk ajaran agama Allah, baik ia berkaitan dengan penghalalan maupun pengharaman, berita maupun ketetapan hukum, janji maupun ancaman.

Adapun orang yang ilmu (tentang masalah tersebut) belum sampai kepadanya, maka ia tidak wajib mengimaninya secara terperinci. Terkadang ia wajib mencari tahu, belajar, mengkaji dan bertanya (tentang masalah tersebut) dan dihukum jika ia meremehkan (tidak sungguh-sungguh). Tapi terkadang ia juga tidak wajib mencari tahu, belajar, mengkaji dan bertanya. Karena ilmu itu ada yang hukumnya fardhu ‘ain, fardhu kifayah, dan sunnah saja.

Maksudnya, wasiat besar yang hendak saya sampaikan adalah saudara-saudara hendaknya berpegang teguh dengan keimanan yang global. Jika mau, kalian bisa menyebutnya keimanan orang-orang tua renta!

Hendaknya mereka menyerahkan perkara-perkara yang mereka tidak mampu memahaminya atau tidak mampu menelitinya kepada para ulama yang memiliki spesialisasi dalam perkara-perkara tersebut. Hendaknya mereka mengatakan:
آمَنَّا بِهِ كُلٌّ مِنْ عِنْدِ رَبِّنَا “Kami mengimaninya, karena seluruhnya berasal dari sisi Rabb kami.”
(QS. Ali-Imran [3]: 7)

Hendaknya mereka mengembalikan perkara yang belum mereka pahami atau perkara yang mereka belum mendapatkan penelitian yang mendalam tentangnya kepada Allah Ta’ala. Niscaya Allah Ta’ala akan membukakan untuk mereka sikap tawakal, sabar dan kejujuran dalam membahas dan mengkaji, mendatangi setiap perkara dari pintunya dan tidak melakukan sikap tergesa-gesa yang tercela. Saya wasiatkan kepada saudara-saudaraku untuk waspada dari orang-orang yang terkena fitnah seperti mereka itu (Abu Maryam Al-Mukhlif dan para pengikutnya), menjauhi mereka, meninggalkan mereka, tidak mendengarkan mereka, tidak mendebat mereka, dan tidak beradu argumentasi dengan mereka kecuali argumentasi sewajarnya jika terpaksa harus melakukannya. Hendaknya saudara-saudaraku bersabar, tetap teguh di atas agama Allah, tidak tergesa-gesa untuk mendebat mereka atau membantah setiap argumentasi yang mereka sodorkan.

Hendaknya saudara-saudaraku tetap berpegang teguh kepada perkara-perkara yang telah baku, kokoh, dan jelas dalam agama Islam. Hendaklah saudara-saudaraku meneladani para ulama yang mendalam ilmunya dan keadaan mereka pada umumnya. Hendaklah saudara-saudaraku mewaspadai hal-hal yang nyleneh dan sendirian (menyelisihi keumuman para ulama yang mendalam ilmunya). Hendaklah saudara-saudaraku mengembalikan ilmu dalam perkara yang belum mereka ketahui kepada Allah semata, niscaya Allah akan membukakan jawabannya untuk mereka.

Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyah menceritakan: “Saya menuturkan satu demi satu argumen mereka kepada Syaikhul Islam (Ibnu Taimiyah Al-Harrani), maka beliau berkata kepadaku: “Janganlah engkau menjadikan hatimu sebagai wadah bagi argumen-argumen dan syubhat-syubhat itu, seperti halnya bunga karang laut yang diguyur air sehingga tidak memercikkan kecuali air tersebut. Namun jadikanlah hatimu seperti cermin yang licin, sehingga syubhat-syubhat hanya melewati bagian permukaannya namun tidak menetap padanya. Cermin itu melihat syubhat-syubhat itu dengan kebeningannya dan menolaknya dengan kekokohannya. Jika tidak begitu, maka setiap kali syubhat melewati hatimu dan hatimu menelannya, niscaya hatimu akan menjadi tempat menetap semua syubhat.”

Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyah mengatakan: “Kira-kira begitulah wasiat beliau kepadaku. Setahuku, aku tidak mendapatkan manfaat yang lebih besar dalam masalah menolak syubhat, daripada wasiat beliau tersebut. Sesungguhnya syubhat itu disebut syubhat tidak lain karena kebenaran samar-samar dengan kebatilan dalam perkara tersebut, sehingga ia mengenakan pakaian kebenaran atas jasad kebatilan. Sementara itu kebanyakan manusia melihat kepada penampilan lahiriah yang bagus. Maka orang yang memandang akan melihat pakaian yang dikenakannya, sehingga ia mengira kebenaran perkara tersebut. Adapun seorang yang memiliki ilmu dan keyakinan tidak akan tertipu oleh (penampilan pakaian luar) tersebut. Pandangannya tertuju kepada bagian dalam dan apa yang berada di balik pakaian tersebut, sehingga hakekatnya terbongkar bagi dirinya…”
Sampai akhir uraian Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyah.

Silahkan melihatnya secara lengkap dalam buku beliau, Miftahu Daris Sa’adah, dan renungkanlah ia baik-kaik, karena uraiannya adalah sebuah penjelasan yang bijaksana.

Sumber: Syaikh Abu Abdurrahman Jamal bin Ibrahim as-Syitwi al-Misrati (Athiyatullah al-Libi). 1434 H. Jawabu Sual fi Jihad ad-Daf’i. Surakarta: Dar al-Jabhah, Al-Jabhah al-I’lamiyah al-Islamiyah al-‘AIamiyah (Global Islamic Media Front), dan Mimbar at-Tauhid wa al-Jihad.