بسم الله الرحمن الرحيم
Oleh Abu Usamah Al Jawi

Perbedaan yang paling mencolok antara habaib 'Iraq dengan selain darinya ada pada nasabnya. Habaib di Yaman dan Nusantara pada umumnya berasal dari anak cucu Za'id bin 'Ali Zainal 'Abidin bin Hussain bin 'Ali bin Abu Thalib dan putranya Yahya. Dua ahli bait ini merupakan tokoh Za'idiyyah yang mengungsi dari 'Iraq ke Yaman dikarenakan tekanan Bani 'Umayyah. Dari merekalah kemudian muncul para habaib sebagaimana yang kita kenal sekarang ini.

Jika habaib 'Iraq itu simbolnya 'hitam-hitam' karena ibu mereka Ummu Fadhl adalah putri Khalifah Al Ma'mun bin Harun Ar Rasyid dari Bani 'Abbasiyyah. Sementara habaib Yaman ibu mereka murni dari kalangan mereka, yakni anak cucu Hasan bin 'Ali. Oleh karena itu, habaib Yaman, Indonesia, Malaysia, dll. itu simbol-nya 'Ijo-ijo'. Adapun habaib Jordan, Mesir, dan Maroko, simbolnya 'merah-merah' sebagai lambang permusuhan mereka atas Bani 'Abbasiyyah hingga mereka berhasil mendirikan Daulah Idrisiyyah (Negara Maroko sekarang) dan Daulah 'Urduniyyah (Jordania sekarang). Mereka ini kebanyakan berasal dari anak turunan Hasan bin 'Ali bin Abu Thalib.

Habaib 'Iraq, khususnya dari Kabilah Al Badri merupakan keturunan dari Muhammad Al Jawwad bin Ali Ar Ridha bin Musa Al Kazhim bin Ja’far Ash Shaddiq bin Muhammad Al Baqir bin 'Ali Zainal 'Abidin bin Asy Syahid Hussaiin bin 'Ali bin Abu Thalib (naqib Thalibiyyun ke-8, w. 203 H di Marshad/Marwu-Iran). Istri dari Muhammad Al Jawwad adalah Ummu Fadhl, salah satu putri Khalifah Al Ma'mun bin Harun Ar Rasyid. Pernikahan ini terjadi pada Ramadhan 200 Hijriyyah ketika Al Ma’mun menjadikan 'Ali bin Musa Al Kazhim bin Ja’far Ash Shaddiq bin Muhammad Al Baqir bin Hussain bin 'Ali bin Abu Thalib sebagai putra mahkota Kekhalifahan 'Abbasiyyah, namun tidak jadi dilantik sebagai khalifah. [Lihat Al Bidayyah, Juz 14 hal. 125]

Muhammad ‘Al Jawwad’ ini kemudian menjadi Naqib Thalibiyyun ke 9. Dari pernikahannya dengan Ummu Fadhl binti 'Abdullah Al Ma’mun Al 'Abbasi ini, lahirlah 'Ali, Musa, Fathimah, dan Umamah. Kemudian 'Ali Al Hadi menjadi Naqib keluarga Thalibiyyun ke-10 di Samarra, 'Iraq. Dari dirinyalah lahir putra-putrinya, yakni Hasan, Hussain, Muhammad, Ja’far, dan 'Aisyah. Dari sinilah asal-usul kabilah-kabilah Ahlul Ba'it di 'Iraq dan Khurasan. Adapun Hasan Al Askari wafat dengan tidak memiliki keturunan.

Kesimpulannya:
•Habaib 'Iraq dan Yaman merupakan anak turunan Hussain bin 'Ali, akan tetapi bedanya habaib 'Iraq ibunya berasal dari Bani 'Abbasiyyah, sementara Habaib Yaman dari ibu yang berasal dari Hasan bin 'Ali. Simbol habaib 'Iraq hitam, sedang habaib Yaman rerata hijau.
•Adapun habaib Mesir, Jordan, dan Maroko adalah anak-cucu dari Hasan bin 'Ali dari ibu yang berasal dari Ummu Walad mereka. Simbol mereka umumnya merah.
•Oleh karena itulah, wajar mujahidin 'Iraq itu pakaian dan simbolnya hitam-hitam', karena mereka juga keturunan Bani 'Abbasiyyah.

Itulah keunggulan nasab habaib 'Iraq dibandingkan habaib yang lain karena mereka memang memiliki darah pewaris kekhalifahan, yakni dari Bani Abbasiyyah. Tokoh habaib 'Iraq misalnya Abu 'Umar Al Hussaini Al Quraisy Al Baghdadi dari Kabilah Al A'raj yang diangkat menjadi Amir Negara Islam 'Iraq. Tokoh habaib Khurasan misalnya Sayyid Abul A'la Al Maududi yang menjabat sebagai Amir Jama'ah Islamiyyah di Pakistan. Tokoh habaib Maghrib misalnya Syarif Abu Muhammad Hasan 'Ali Al Kattani yang menjabat sebagai Mufti Organisasi Kaidah Jihad di Jazirah Afrika. Tokoh habaib Yaman misalnya Habib Muhammad Riziq bin Asy Syihab yang menjabat sebagai Imam Front Pembela Islam (FPI).

ﺍﻧﻤﺎ ﻣﺜﻞ ﺃﻫﻞ ﺑﻴﺘﻲ ﻓﻴﻜﻢ ﻛﻤﺜﻞ ﺳﻔﻴﻨﺔ ﻧﻮﺡ ﻣﻦ ﺭﻛﺒﻬﺎ ﻧﺠﺎ ﻭﻣﻦ ﺗﺨﻠﻒ ﻋﻨﻬﺎ ﻏﺮﻕ
"Sungguh tiada lain perumpamaan Ahlul Ba'it-ku seperti bahtera Nuh, barang siapa yang menaikinya ia akan selamat dan barangsiapa yang tertinggal ia akan tenggelam."
Hadis Safinah sangat mutawatir dan dengan bermacam-macam redaksinya hadis ini terdapat di dalam kitab:
1. Mustadrak Al Hakim, (2/343) dan (3/151).
2. Ash Shawa’iqul Muhriqah, 184 dan 234.
3. Nizham Durar As Samthin, 235.
4. Al Mu’jam Ash Shaghir Ath Thabrani, (1/139).
5. Ash Shawa’iqul Muhriqah, 148 dan 234, cet. Al Muhammadiyyah; 111 dan 140, cet. Al-Maimaniyyah.
6. Fathul Kabir, (1/414) dan (2/113).
7. Ihyaul Mayyit oleh As Suyuthi (catatan pinggir) Al Ittihaf, 113.
18. Muntakhab Kanzul ‘Ummal (catatan pinggir) Musnad Ahmad, (5/95).

(Diolah dari tulisan milik cendekiawan mazhab Zhahiri, Bunyamin Azh Zhahiri (Benjamin Al Zahiri) dengan tambahan seperlunya)

Abu Usamah Al Jawi @ Wilayah Syarqi Asia
Artikel Islam.WBlog.Id