Berminat pasang iklan di sini? Oke. Klik di sini sekarang!

Alquran Bukan Senda Gurau

Oleh Nashir Ibn Hamad Al Fahad

Allah Subhanahu wa Ta’ala telah meniadakan kebatilan dan senda gurau dari Kitab-Nya yang mulia, di mana Dia berfirman,
إِنَّهُ لَقَوْلٌ فَصْلٌ وَمَا هُوَ بِالْهَزْلِ
“Sesungguhnya Alquran itu benar-benar firman yang memisahkan antara yang hak dan yang batil dan sekali-kali bukanlah dia senda gurau.”
(Ath Thariq: 13-14)

Ibnu 'Abbas berkata, “Senda gurau adalah kebatilan.”

Mujahid berkata, “Senda gurau adalah permainan.”

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا بِالذِّكْرِ لَمَّا جَاءَهُمْ وَإِنَّهُ لَكِتَابٌ عَزِيزٌ لا يَأْتِيهِ الْبَاطِلُ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَلا مِنْ خَلْفِهِ تَنْزِيلٌ مِنْ حَكِيمٍ حَمِيدٍ
“Dan sesungguhnya Alquran itu adalah Kitab yang mulia, yang tidak datang kepadanya kebatilan baik dari depan maupun dari belakangnya, yang diturunkan dari Rabb yang Mahabijaksana lagi Maha Terpuji.”
(Fushshilat: 41-42)

Sedangkan nyanyian itu adalah termasuk kebatilan dan permainan dan Al Bukhari rahimahullah telah menetapkan di dalam Kitab Shahih-nya satu bab yang beliau juduli “Setiap permainan itu adalah kebatilan bila menyibukan dari ketaatan kepada Allah”.

Al Qasim bin Muhammad bin Abi Bakar rahimahullah berkata, ”Nyanyian itu adalah kebatilan, sedangkan kebatilan itu adalah di neraka.”

Mujahid menamakan nyanyian itu sebagai kebatilan.

Asy Syafi’i berkata, “Nyanyian itu adalah makruh (dibenci) yang menyerupai kebatilan.”

Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari 'Abdullah bin ‘Amr radhiallahu ‘anhuma berkata, "Sesungguhnya Allah menurunkan al haq untuk melenyapkan kebatilan dengannya dan untuk menggugurkan permainan, tarian, seruling, mizhar, dan kibarat dengannya."

Mizhar adalah gitar yang dimainkan, sedangkan kibarat adalah kecapi dan ada yang mengatakan bahwa ia adalah rebana sebagaimana yang ditafsirkan oleh sebagian ulama tabi’in. Bila Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menegaskan bahwa Alquran itu, “Adalah tidak datang kepadanya  kebatilan baik dari depan maupun dari belakangnya,” oleh sebab itu barang siapa menyanyikannya atau menyanyikan sesuatu darinya, maka dia itu telah melakukan pembangkangan terhadap Alquran dengan perbuatannya itu.

Ibnu Abi Syaibah telah meriwayatkan dari ‘Imran bin 'Abdillah bin Thalhah bahwa seorang laki-laki membaca Alquran dengan mendayu-dayu di masjid Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di bulan Ramadhan, maka Al Qasim mengingkari hal itu dan berkata, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا بِالذِّكْرِ لَمَّا جَاءَهُمْ وَإِنَّهُ لَكِتَابٌ عَزِيزٌ لا يَأْتِيهِ الْبَاطِلُ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَلا مِنْ خَلْفِهِ تَنْزِيلٌ مِنْ حَكِيمٍ حَمِيدٍ
“Dan sesungguhnya Alquran itu adalah Kitab yang mulia, yang tidak datang kepadanya kebatilan baik dari depan maupun dari belakangnya, yang diturunkan dari Rabb yang Mahabijaksana lagi Maha Terpuji.”
(Fushshilat: 41-42)

Maka coba perhatikan bagaimana tabi’in yang mulia ini menjadikan pembacaan Alquran dengan mendayu-dayu sebagai kebatilan, padahal dia itu tidak bermain-main dan tidak bersenda gurau dengannya, dan beliau mengingkari orang yang melakukannya? Maka bagaimana dengan orang yang menyanyikan Alquran dengan disertai alat musik?!

Sumber: https://elmohajeeron.wordpress.com/2011/09/15/risalah-hukum-bernyanyi-dengan-al-qur’an-risalah-fii-hukmil-ghina-bil-qur’an/amp/

Penulis: Nashir Ibn Hamad Al Fahad
Penerjemah: Abu Sulaiman Al Arkhabili